Makassar, mediaukhuwah.id – Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan (PWM Sulsel) sukses menggelar kegiatan Syawalan 1447 H yang dipusatkan di Pusat Dakwah Muhammadiyah Sulsel, Sabtu (28/3/2026) bertepatan dengan 9 Syawal 1447 H.
Kegiatan ini berlangsung meriah dan penuh kekhidmatan dengan jumlah kehadiran yang membludak. Panitia yang semula menyiapkan sekitar 2.000 kursi, harus menyambut antusiasme jamaah yang mencapai kurang lebih 4.000 orang dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan.
Ketua PWM Sulsel, Prof. Dr. Ambo Asse, dalam sambutannya menegaskan bahwa Muhammadiyah Sulsel akan terus bergerak dalam memberikan pelayanan terbaik kepada umat Islam.
“Muhammadiyah Sulsel terus bergerak untuk melayani umat Islam. Kita ingin menghadirkan layanan yang menggembirakan dan membanggakan bagi masyarakat,” ujarnya.
Dalam momentum tersebut juga dilakukan peresmian Klinik Utama Muhammadiyah serta pengukuhan pengurus Muallaf Learning Muhammadiyah Sulsel sebagai bagian dari penguatan dakwah dan pelayanan sosial.
Sementara itu, Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaeman, menyampaikan apresiasi atas kontribusi Muhammadiyah dalam pembangunan daerah, khususnya di sektor pendidikan dan sosial.
Ia juga mengungkapkan sejumlah dukungan pemerintah, di antaranya bantuan pembangunan fisik sebanyak 216 unit sekolah pada tahun 2026, rencana pembangunan sekolah afirmasi di Sulawesi Selatan, serta hibah tahap pertama dari Pemerintah Provinsi Sulsel sebesar Rp800 juta kepada PWM Sulsel untuk pembangunan Gedung Dakwah Muhammadiyah.
Tak hanya itu, bantuan berupa satu unit traktor roda empat juga diberikan sebagai bentuk dukungan terhadap pemberdayaan ekonomi umat.
Hikmah Syawalan disampaikan oleh Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abd. Mu’ti, yang juga menjabat sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah.
Dalam tausiyahnya, ia menekankan bahwa Syawalan merupakan momentum untuk saling membuka diri dan memaafkan, sekaligus memperkuat ukhuwah Islamiyah.
Ia menjelaskan bahwa tradisi Syawalan memang tidak dipraktikkan pada masa Nabi Muhammad SAW, namun menjadi bagian dari budaya umat Islam Indonesia dalam mempererat silaturahmi.
Lebih lanjut, ia menguraikan pentingnya menyikapi perbedaan di tengah umat dengan bijak, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Maidah ayat 48: “Likullin ja‘alna minkum syir‘atan wa minhajan…” yang menegaskan bahwa setiap umat memiliki jalan dan metode masing-masing.
Mengutip pemikiran Yusuf al-Qaradawi dalam kitab Fiqhul Ikhtilaf, ia membagi perbedaan menjadi tiga bentuk:
- Ikhtilaf Tanawwu’, yaitu perbedaan yang saling melengkapi dan memperkaya khazanah umat.
- Ikhtilaf Fahm, yaitu perbedaan ijtihad yang harus disikapi dengan toleransi.
- Ikhtilaf Tadhaad, yaitu perbedaan yang bersifat kontradiktif dan memecah belah, yang harus dihindari.
“Kita harus mampu membedakan mana perbedaan yang menjadi rahmat dan mana yang menjadi sumber perpecahan. Prinsipnya, kita bekerja sama dalam hal yang disepakati dan bertoleransi dalam hal yang diperselisihkan,” jelasnya.
Ia juga mengangkat konsep vernakularisasi Islam, yaitu bagaimana nilai-nilai Islam hadir dalam konteks budaya lokal tanpa kehilangan substansi ajaran.
Menutup tausiyahnya, ia mengajak seluruh umat untuk memperkuat persaudaraan, menghindari prasangka buruk, serta terus merajut silaturahmi.
“Syawalan adalah momentum untuk mengurai benang yang kusut dan menyambung kembali hubungan yang sempat retak. Barang siapa yang ingin dipanjangkan umurnya, maka perbanyaklah sedekah dan silaturahmi,” pesannya.
Kegiatan Syawalan ini menjadi bukti nyata kuatnya semangat kebersamaan warga Muhammadiyah dan masyarakat Sulawesi Selatan dalam merawat persatuan serta memperkokoh ukhuwah Islamiyah pasca Ramadhan.











